Sabtu, 02 Mei 2009

Mengunjungi Teman Alam, Mempelajari Secuil Tentang Alam

8_CRW_3223

Sinar mentari pagi yang masuk sela-sela jendela, segera membangunkan Robi (29) dari tempat tidurnya. segera saja Dia megambil langkah seribu menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok giginya sedini mungkin. Sembari menyamber remote control tv-nya, dia pun menge

lap wajahnya. Terdengar sayup berita pagi ini yang memberitakan bertambahnya korban musibah jebolnya Situ Gintung. Sembari menunggu air panas, dia pun meracik takaran kopi dengan gulanya. Matanya tajam mempelototi layar televisi yang memvisualkan keadaan sekitar (habitat) tanggul yang rusak menganga layaknya kawah gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Jawa Timur. Sembari mengaduk racikan kopinya, dia pun berceloteh, "Sebenarnya Alam itu mandiri, alam tidak akan bisa ditolerir. Manusianya saja yang mencoba bermain curang akan alam". "Sudah jelas-jelas, dulu dikabarkan kalo Situ Gunting membutuhkan perawatan. Manusia malah menjadikannya obyek wisata", dia pun menambahkan. Robi pun melangkah keluar kamar, bergerak menuju kandang rehabilitasi satwa PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Bali, untuk memberi ransum pagi hari.

1_CRW_2999 Udara luar masih terasa dingin, mengabarkan gunung Batukaru nun jauh disana, siap menyambut mentari yang perlahan mulai terasa hangat menyapa kulit. Suara Owa Jawa (Holybates agili) dan burung-burung paruh bengkok yang lantang menggelegar di masing-masing Kandang, memecah keheningan wangi bau dupa yang dihaturkan umat hindu Tabanan Bali di tiap rumah-rumah. Suara-suara siulan burung gereja dan burung kecil lainnya, turut menebarkan rahmat yang turun di permukaan bumi ini. Suara-suara itu, sahut menyahut nyaring namun hening menyambut mentari pagi yang kemuning. Ya, Pagi yang indah, Pagi yang ketika satwa-satwa melakukan ritual harian untuk bersuara dan berceloteh menandakan keberadaannya di alam. 2_CRW_3196Satwa-satwa yang indah berceloteh menandakan bahwa bumi ini diberkahi dengan turunnya para Malaikat Rahmat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Bersanding membentuk piramida kehidupan sebagaimana yang digariskan. Robi dan Onny pun mulai menyediakan berbagai jenis buah untuk dibagikan kepada satwa-satwa yang direhabilitasi di masing-masing kandang. Buah-buahan ini nantinya dibagikan dalam ransum masing-masing satwa sesuai dengan jenis makanannya di alam.

6_CRW_3025 Yup, Pusat Penyelamatan Satwa Bali (PPS Bali) memang didesain dan dikhususkan sebagai penitipan dan penampungan sementara satwa-satwa dilindungi hasil penyitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Departemen Kehutanan RI dan atau penyerahan satwa secara sukarela dari masyarakat. Satwa-satwa tersebut dirawat dan direhabilitasi dengan tujuan utama untuk dilepasliarkan kembali ke alam sesuai prosedur dan prinsip kesejahteraan satwa. PPS Bali dikelola oleh Yayasan PPS Bali, berdiri pada tanggal 1 Mei 2004 yang secara nasional, tergabung dalam Jaringan Pusat Penyelamatan Satwa Indonesia (JPPSI). Saat ini, JPPSI ada tujuh PPS yang tersebar di seluruh Indonesia dengan misi dan tujuan yang sama, yaitu menyelamatkan satwa liar Indonesia. 3_CRW_2990

Teman-teman alam inilah yang selalu memperhatikan kesejahteraan satwa hasil sitaan ataupun satwa yang terkontaminasi dengan tangan-tangan salah manusia. Satwa-7_CRW_3078satwa tersebut direhabilitasi dalam kandang yang didesain layaknya nanti ketika dilepas di alam liar dengan fasilitas-fasilitas sesuai perilaku alamiahnya di alam. Mulai pemeriksaan kesehatan, penanganan medis, kebersihan kandang, ketersediaan ransum 2 kali sehari (Pagi pukul 07.00 Wita dan Sore pukul 15.00 Wita), pelaporan dan kecakapan satwa yang akan dilepasliarkan, survey lokasi pelepasliaran dan pendidikan perlindungan satwa Indonesia pada generasi manusia muda. Teman-teman alam ini untuk sementara menjadi orang tua bagi satwa-satwa yang akan dilepasliarkan.

4_CRW_2997 Satwa-satwa di PPS diperlakukan layaknya seorang bayi manusia yang dirawat dan disejahterakan sejak kecil, remaja, menuju dewasa, kemudian sekolah (sekolah alam), sekolah lanjutan (sekolah perilaku) hingga diwisuda. Berbeda dengan kita (kita???lu aja kali) di dunia manusia, ketika prosesi wisuda telai usai, kita masih banyak yang menganggur dan sebagainya. Kita belum mempunyai karakter, tidak siap dengan sistem, keahlian yang minim dan pemikiran-pemikiran yang masih labil di alam liar. Sedangkan satwa-satwa di PPS, setelah diwisuda, harus sudah mempunyai sifat kemandirian, keahlian yang mumpuni, kesehatan yang terjamin, perilaku yang sesuai dengan karakter yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Satwa-satwa tersebut tidak hanya TAHU, tapi Bisa, kemudian AHLI di alam liar. Teman-teman alam sebagai orang tua asuh hanya boleh memonitor secara jarak jauh kepada satwa-satwa yang telah dilepasliarkan di alam.  5_CRW_3016

Indonesia sejak dahulu dikenal sebagai negara Megabiodiversitas nomor ketiga di dunia. Ironisnya, Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan daftar terpanjang akan satwa-satwa yang terancam punah. Secara hukum, UU RI No. 5 th 1990 telah menjelaskan secara jelas tentang satwa-satwa Indonesia lengkap dengan hukumannya jika ilegal memelihara satwa-satwa tersebut. Kalau saja kita mau berpikir ulang, kegiatan memelihara satwa liar sangat beresiko akan adanya penyakit menular Zoonosis, yakni penyakit yang menular baikdari satwa ke manusia ataupun sebaliknya. beberapa penyakit zoonosis tersebut, diantaranya: Anthrax, Hepatitis, Rabies, Psitakosis dan Tuberkulosis.

9_CRW_3215Teman-teman alam ini seperti tidak punya waktu libur. Karena mereka harus selalu memperhatikan kesejahteraan satwa di masing-masing kandang. Secara bergantian, teman-teman alam pun ikut menjaga kandang di malam hari. Ketika teman-teman alam ini ke hutan, mereka mengajak teman-teman alam kecil untuk sekedar bermain air, menikmati sejuknya panorama alam, bercanda ria serta mengamati burung-burung ceria di pagi hari. Mencoba berdiskusi tentang alam, mentransformasikan kearifan 10_CRW_3217alam dan budaya bali kepada teman-teman alam kecil sebagai pembelajaran dan pendidikan demi kemandirian. Akhirnya teman-teman alam kecil pun tertidur pulas dalam perjalanan pulangnya. Salam Lestari....

11_CRW_3267

 

 

 

For further my audio visual this post, please check and download at this url: http://www.stillphotographer.multiply.com/ on video post.

Senin, 22 Desember 2008

Subari Perajin Keris Pensiunan TNI ABRI


Butiran demi butiran keringat mengalir deras mengucuri bagian tubuh yang berlekuk. Lelaki baya dengan otot yang semakin mengeras itu, memukul besi tua dengan selaras dan berirama keras nan melodis. Pagi yang sejuk di dusun Jepun, pinggiran barat gunung Semeru, terasa begitu panas berkeringat di gubug milik Subari (56). Sesekali bantuan dari anaknya, mengiringi derasnya keringat yang terus mengalir sembari memukuli logam pekat nan tua. Bunyi-bunyian bertemunya dua sisi logam besi tua itu, menjadi musik yang berirama khas di prapen setiap besali (tempat pembuatan keris).
Subari (56), seorang pensiunan ABRI angkatan 58, dikenal di dusun Jepun dan dunia sebagai seorang pembuat benda-benda pusaka dan keris sejarah. Berbekal ilmu warisan kakeknya, ki noto suwiryo dari Madura sejak tahun 1990, Subari (55) kembali menggeluti pekerjaan tersebut setelah lama bertugas dalam perjuangan melawan pemberontak portugis di wilayah Timor Timur pada tahun 1976. Bersama dengan dua kawan kesatuannya yang berasal dari Banyuwangi (Sutris) dan Kediri (Sugito), mulai menggeluti kembali ilmu warisan keluarganya di masing-masing daerah.
Pertama kali benda pusaka yang dibuatnya adalah pusaka kerajaan BrunaiDarussalam dan Malaysia yang berbentuk keris sepanjang 2,5 meter yang dibalut dengan pamor yang berbeda. Saat ini benda hasil karyanya telah menyebar di beberapa Negara seperti Brunai Darussalam, Malang, Australia, Amsterdam, Inggris, Jawa, Bali dan Sumatra.
Mahal tidaknya sebuah benda pusaka, didasarkan pada pamor yang diharapkan dan dimunculkan. Pamor paling mahal adalah kelabang sisik sewu dan konang sa jagat, minimal Rp. 2.000.000,- berujud masih mentah atau belum jadi penuh. Pamor lainnya adalah pamor naga, melati, melati renteng, blarak slerek dan junjung drajat.
Bahan dasar pusaka tersebut adalah besi-besi tua yang didapatkan dari si pemesan. Besi-besi ini didapat dari bangunan-bangunan tua peninggalan belanda dan peninggalan lainnya. Biasanya dijual per kilo maupun borongan yang sekilonya dihargai Rp. 4.500,-. Untuk susunannya menurut beliau strandardnya adalah 55 lapis yang terdiri dari 45 besi tua dan 10 besi putih.

teks dan foto: M. Hambali
more photos:
http://www.stillphotographer.multiply.com/

Persepsi Perajin Reyog Di Kabupaten Ponorogo Terhadap Pemanfaatan Kulit Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae)

Attachment: Makalah M Hambali - Unisma.pdf